Popular Post

data iyam

By : mtsdfcijati

DATA PRIBADI
Kode Guru : 68
Nama : Hj. Iyam Maryam, S.Pd.I.
Jenis Kelamin : Perempuan
NIP : 196310251993032002
NUPTK : 5357-7416-4621-0003
Jabatan : Wali Kelas VII A / Guru Akidah Akhlaq
Tempat dan Tanggal Lahir : Majalengka, 25 Oktober 1963
Pendidikan Terakhir : S1 / STAI PUI Majalengka
Mata Pelajaran yang Disertifikasi : Akidah Akhlaq
Nomor Sertifikat : 2021323507978
Lulus Sergur : 2013
Nomor Registrasi Guru : dalam proses
Pangkat / Golongan : III d
Alamat Rumah : Jalan Suma Kec./Kab. Majalengka 45418
Nomor Telepon / HP : (0233)282385 / 085224724861
Nomor KTP : 3210074701610001
Nomor NPWP : 68.677.619.6 - 438.000
KEMBALI KE PROFIL GURU

data lulu

By : mtsdfcijati

DATA PRIBADI
Kode Guru : 53
Nama : Lulu Mulkiah, S.Ag.
Jenis Kelamin : Perempuan
NIP : 197205292000122001
NUPTK : 2861-7506-5230-0002
Jabatan : Guru SKI / Bahasa Sunda
Tempat dan Tanggal Lahir : Majalengka, 29 Mei 1972
Pendidikan Terakhir : S1 / -
Mata Pelajaran yang Disertifikasi : SKI
Nomor Sertifikat : 2021323802570
Lulus Sergur : 2013
Nomor Registrasi Guru : dalam proses
Pangkat / Golongan : IV/a
Alamat Rumah : Jalan Pasir Malati Kec./Kab. Majalengka 45418
Nomor Telepon / HP : 085295640034
Nomor KTP : 3210076905720001
Nomor NPWP : 49.152.661.2 - 438.000
KEMBALI KE PROFIL

Data tati

By : mtsdfcijati

DATA PRIBADI
Kode Guru : 24
Nama : Hj. TATI SUPRIATI, S.Ag.
Jenis Kelamin : Perempuan
NIP : 196101071992032001
NUPTK : 1439-7396-4030-0002
Jabatan : Wakasekbid Kurikulum
Tempat dan Tanggal Lahir : Majalengka, 7 Januari 1961
Pendidikan Terakhir : S1 / STAI PUI Majalengka
Mata Pelajaran yang Disertifikasi : Quran Hadits
Nomor Sertifikat : 020806700637
Lulus Sergur : 2008
Nomor Registrasi Guru : 000270009550
Pangkat / Golongan : Pembina / IV a
Alamat Rumah : Jalan Suma Kec./Kab. Majalengka 45418
Nomor Telepon / HP : (0233)282385 / 085224724861
Nomor KTP : 3210074701610001
Nomor NPWP : 49.152.613.3 - 438.000
KEMBALI KE PROFIL GURU

Hakikat Belajar

By : mtsdfcijati

Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Lantas, apa sesungguhnya belajar itu ?


Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli :
  • Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

  • Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.

  • Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”.

  • Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”

  • Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.

  • Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman”

Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :

  • Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).
  • Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.

  • Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).
  • Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.

  • Perubahan yang fungsional.
  • Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.

  • Perubahan yang bersifat positif.
  • Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.

  • Perubahan yang bersifat aktif.
  • Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.

  • Perubahan yang bersifat pemanen.
  • Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.

  • Perubahan yang bertujuan dan terarah.
  • Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

  • Perubahan perilaku secara keseluruhan.
  • Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”.
    Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :

  • Informasi verbal; yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.

  • Kecakapan intelektual; yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.

  • Strategi kognitif; kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran.

  • Sikap; yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.

  • Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.


  • Sementara itu, Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam :
  • Kebiasaan; seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.

  • Keterampilan; seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi.

  • Pengamatan; yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar.

  • Berfikir asosiatif; yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat.

  • Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why).

  • Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan.

  • Inhibisi (menghindari hal yang mubazir).

  • Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu.

  • Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya.


  • Sedangkan menurut Bloom, perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.





Kembali Ke Koleksi Artikel

Mendidik Dengan Hati

By : mtsdfcijati
Oleh : Ratih Sanggarwaty

Mendidik dengan hati, itulah kata-kata yang sering kita dengar akhir-akhir ini pada pembicaraan di kalangan para pendidik ataupun guru. Memang benar, disadarai atau tidak, pendidikan sangatlah penting dalam kemajuan bangsa kita, melalui pendidikan generasi penerus dibentuk dan dicetak, karena melalui pendidikan terjadi proses pembentukan akhlaq, perilaku manusia dan juga pandangan hidupnya. Seperti halnya tujuan pendidikan yaitu bukan hanya mencerdaskan otak tapi juga membentuk watak.
Sekolah, merupakan tempat seorang anak menghabiskan hampir sebagian besar waktunya, apalagi sekarang dimana banyak sekali sekolah-sekolah yang memberikan pengajaran sehari penuh. Di samping itu, waktu orang tua tidak jarang terasa kurang untuk berinteraksi dengan anak terutama di kota-kota besar dimana pada orangtua sibuk mencarai nafkah hingga petang.
Di sini jelas, peran guru sangatlah penting dalam mendidik seorang anak, peran guru bisa menjadi warna bagi kehidupan anak, sehingga guru dituntut untuk dapat mendidik para siswanya dengan hati dan penuh keikhlasan, memang mendidik anak bukanlah hal yang mudah, gampang-gampang susah, demikian orang mengatakan, namun karakteristik dan nilai-nilai positif harus tetap ditanamkan agar anak tidak tersesat di kemudian hari.
Bagaimana mendidik dengan hati ? mendidikan dengan hati dan penuh keikhlasan serta kasih sayang dapat dicontohkan sebagai berikut :

  • Bersahabat dan Menjadi Teladan
  • Seorang sahabat akan menghibur tatkala sahabatnya bersedih dan turut gembira jika sahabatnya mendapat kebahagiaan, demikianlah yang diharapkan bagi para guru, agar siswa merasa dekat dan merasakan adanya sebuah persahabatan. Seorang guru juga harus mampu menjadi sahabat sekaligus teladan bagi para siswa, agar siswa memiliki panutan dan acuan dalam bertingkah laku

  • Menunaikan Hak Dengan Baik
  • Hak siswa di sekolah di antaranya adalah mendapatkan pengajaran dengan baik dan dihargai pendapatnya. Apabila hak siswa dipenuhi dengan baik, maka hatinya akan merasa senang dan akan timbul kecintaan dalam mengikuti pelajaran, jadi hak siswa adalah kewajiban guru untuk memenuhinya begitu juga sebaliknya hak guru adalah kewajiban siswa untuk memenuhinya

  • Jujur
  • Kejujuran seorang guru akan menjadi contoh dan teladan bagi para siswanya dan kejujuran akan memberikan kepercayaan yang tinggi

  • Sabar dan Tidak Emosional
  • Mungkin tidak jarang guru menemukan siswanya yang susah sekali diatur, bandel dan lain sebagainya. Menghadapi hal ini diharapkan tetap menjaga kesabarannya dan tidak emosional, karena sikap emosional akan mempengaruhi proses belajar mengajar menjadi kurang menyenangkan

  • Membesarkan Hati Anak Didik Ketika Sedang Murung
  • Menemui siswa yang sedang murung disekolah, bukanlah suatu hal yang mustahil, karena bisa saja seorang siswa memiliki permasalahan pribadi, antar teman atau dengan keluarganya. Melihat hal seperti ini, seorang guru harus pandai membesarkan hati siswanya supaya hilang kemurungannya dan bisa mengikuti proses pembelajaran dengan baik

  • Menumbuhkan Rasa Empati dan Pebuh Kasih Sayang
  • Guru yang baik akan menimbulkan empati bagi siswa dan akan memberikan pendidikannya dengan penuh kasih sayang, sehingga siswa dapat mengikuti dan mendengarkan apa yang disampaikan tanpa paksaan

  • Tumbuhkan Rasa Percaya Diri
  • Kelemahan seseorang terkadang membuat seseorang menjadi tidak percaya diri atau minder, tugas guru adalah harus mampu membangkitkan rasa percaya diri siswa dengan cara membesarkan hatinya, memberinya semangat sehingga rasa percaya dirinya bisa muncul

  • Motivasi Untuk Kebaikan dan Ingatkan Akan Keburukan
  • Terus memotivasi dalam kebaikan dan mengingatkan akan keburukan, misalnya dengan cara memberikan pujian tertentu saat siswa melakukan kebaikan, tidak mengejek saat siswa melakukan kesalahan, namun sekedar mengingatkannya dengan harapan siswa tersebut dapat memahami dan memperbaiki sikapnya

  • Angkat Potensi dan Perbaiki Kelemahannya
  • Seorang anak memiliki perbedaan dengan yang lainnya dan memiliki keunikan masing-masing seperti halnya yang disebut dengan multiple intelligent atau kecerdasan majemuk. Sehingga potensi masing-masing anak tentu saja berbeda-beda bergantung keceerdasan mana yang menonjol. Guru harus mampu mengangkat potensi ini dan memperbaiki kelemahan yang ada agar anak mampu bertumbuh kembang dengan baik dan merasa mendapat perhatian untuk mengembangkan kecerdasannya serta mampu memperbaiki kelemahannya





Kembali Ke Koleksi Artikel

- Copyright © 2013 MTs Darul Falah Cijati - MTs DF Cjt - Powered by Blogger - Modify by Amarajen -

Selamat datang di MTs Darul Falah Cijati, Terima kasih telah singgah... Semoga kita berjumpa lagi!!